pasta rissoles w/ barbeque sauce, bloody delicious! (Taken with instagram)
pasta rissoles w/ barbeque sauce, bloody delicious! (Taken with instagram)
Salutate la Capolista!
Itulah tulisan sebagian besar teman-teman milanisti saya, baik digunakan sebagai status Blackberry Messenger maupun kicauan di jejaring sosial bernama twitter. Saya belum cek laman Home pada Facebook milik saya. Biasanya pada jejaring sosial tersebut, teman-teman Milanisti akan berceloteh ria dengan tampilan berupa gambar, video pertandingan Milan atau hanya sekedar berbagi status.
Kami terus berharap AC Milan akan selalu menang dan menang. Menang dengan penuh keyakinan dari semua lini, belakang, tengah, depan, pelatih dan juga supporter. Faktor lain pertama adalah kamipun terus berharap bahwa lawan terberat kami ‘the unbeaten signora’ akan terus berada pada situasinya saat ini. Unbeaten without any victories. Yeah, keep proud with that slogan!
Faktor lain kedua adalah wasit. Kami tidak pernah berharap sedetikpun wasit akan memihak kami dalam kepemimpinannya, dan juga terus berdoa agar para arbitro pilihan tersebut tidak membenci kami atas dasar apapun. Kami hanya butuh wasit yang bekerja seadil-adilnya baik ketika Milan bertindak sebagai tim tuan rumah ataupun tim tamu. Keindahan sepakbola akan rusak jika wasit meletakan kedua kaki mereka di salah satu tim yang bertanding. Dan apakah kalian berbangga hati jika tim yang kalian suka menang karena faktor wasit? Hell yeah, it so hard to defend your team among insults from other fans (IMHO)
Tinggalkan faktor lain, fokus pada faktor utama:
Faktor lain apakah perlu dibahas? Saya berusaha mengambil teladan dari Mr. Allegri dengan tidak repot membahas ‘hal-hal kecil’ lainnya (meskipun sulit pemirsaaahhh) Stay focus, and just believe that we will celebrate our 19th scudetto. I hope so, I hope so. Just close your eyes, lift your hands and pray. We will celebrate at the end, we will …

(Source: picslatersoccer, via frozentearz13)

In Allegri, We trust! Forza @acmilan (^o^)ง *bismillah*
Rabu, 7 Maret 2012
Tanggal tersebut merupakan hari setengah kelabu. Harap digarisbawahi tulisan setengah kelabu. Hampir saja terjadi tradegi Riazor Part II. Bagi kami para Milanisti, Tragedi Riazor tersebut sulit untuk dilupakan dan sebagian dari kami bahkan masih belum bisa menerima pembalikan skor Super Depor beberapa tahun silam.
Hari ini, AC Milan memang lolos dari lubang jarum dan berhak untuk melanjutkan perjuangan ke babak 8 besar Liga Champion. Tapi proses lolosnya I Rossoneri dini hari tadi melawan Arsenal merupakan olahraga jantung terlama yang pernah saya rasakan, khususnya 45 menit pertama. Betapa tidak, Keunggulan 4-0 yang diperoleh di San Siro nyaris sirna akibat mengamuknya the young guns asal London tersebut dengan 3 gol sempurna di babak pertama.
Jujur, saya stress dini hari tadi. Ini jawaban atas berdebarnya jantung saya dari siang hari sebelumnya. Sebagai supporter biasa, saya bisa saja mematikan televisi, pergi tidur dan cek skor via twitter pada pagi harinya. Tapi tidak dengan jiwa ultras ini. Meski saya tidak bisa ikut nonbar bersama ultras Milanisti Indonesia lainnya di Hanggar Futsal Pancoran, setidaknya saya HARUS setia dan bertahan untuk melihat AC Milan bertanding. Saya percaya, AC Milan saya mampu untuk keluar dari bayang-bayang The Riazor Drama.
Babak kedua segera dimulai. Saya sebagai penonton yang gemas bukan kepalang atas permainan Djemal Mesbah mulai ngedumel sendiri ketika mengetahui Mesbah tidak diganti. Ada apa ini? Om Alle berjudi apalagi kali ini? Dengan hasil 3-0 untuk Arsenal, apa Om Alle gila tidak mengganti Mesbah dengan yang lain. Well, saya sangat sangat menyadari atas keterbatasan pemain yg dimiliki Milan. Nesta was injured, Bonera? not even better. Is there anyone else who capable to full fill this team? Apakah ini sebuah bentuk peremehan lainnya oleh Allegri setelah menurunkan skuad ‘baru’ untuk level sekelas Liga Champion? I’m sorry Uncle Alle, I even can’t understand with my personal thought -____-
Call me stupid! Saya yang tidak tau caranya meramu tim, saya yang tidak tau bagaimana harus keluar dari situasi sulit ini malah ‘sok-sok’ an memojokkan pelatih hebat sekelas Om Alle. He is amazing, I am amazed! Babak kedua, AC Milan bermain rapat dan lebih terorganisir. Memang peluang goal dari Mr. Zlatan dan Nocerino gagal membuahkan hasil. Well, setidaknya kami lolos! Crediamooo!!!
Selesai pertandingan rasa neraka tersebut, ada beberapa pertanyaan yang tersimpan rapi di otak saya. Apa yang Allegri katakan di kamar ganti, khususnya kepada Mesbah? Apa yang menjadi pemikiran Allegri sehingga dia berani untuk mempertaruhkan kepalanya sendiri dengan tetap memainkan Mesbah pada babak kedua. Mesbah luar biasa, terlepas dari buruknya permainan pada babak 1. Tapi tetap pahlawan kami disini adalah Allegri. Siapa yang setuju dengan saya bahwa Allegri adalah pelatih bertangan dingin dan berotak jernih?
Seorang sahabat mengatakan bahwa Allegri merupakan pelatih sempurna (and I couldn’t agree more). Allegri tetap percaya bahwa Mesbah bisa keluar dari situasi sulit di babak pertama. Allegri tidak ingin merusak mental tanding anak buahnya dengan penggantian tersebut. Allegri percaya dan bisa meyakinkan anak buahnya kalau mereka bisa, kalau mereka mampu untuk berada dalam jalur kemenangan. I got the point, He is incredible! He is our coach!
Pelatih ini sempurna. Gayanya mempesona, senyumnya menyejukkan, sikapnya menjadi panutan. We don’t need another Mourinho, We don’t want to have another Fergie (with all due my respect). Because we are already have this handsome guardian angel. Thank you Allegri, you made us to still believe that everything could be happen. Because We are AC Milan, Because We always 8elieve :)
And once again I have to say: In Allegri, We trust! #ForzaMilan
#LetsHearIt #TheVoice2
Chris Mann - Because We Believe
#LetsHearIt #TheVoice2
RaeLynn - Hell on Heels
#LetsHearIt #TheVoice2
Lindsey Pavao - Say Ah
#LetsHearIt #TheVoice2 Whitney Myer - No One